Politik Perempuan

image

Semilir angin kawasan puncak begitu berbekas di ingatanku, ditimpali oleh senyuman hamparan kebun teh yang menghijau ditengah liukan dahsyat jalan raya puncak menuju kawasan Cisarua Bogor. Desis mesin si hijau bongsor seakan tertelan oleh senyapnya suasana senja di kawasan wisata keluarga yang seakan tak ada hentinya beraktifitas menghangatkan suasana.

Ini sebuah cerita perjalanan untuk menggugah kembali makna kata ‘politik’ yang seakan telah terkungkung dalam kutukan kejelekan dan kekejian  dengan berbagai kata pendukung seperti … licik, munafik dan sejuta kata penuh serapah. Padahal makluk ini netral kok…. Tergantung siapa usernya , siapa penggunanya dan bagaimana memaknai hakikat kata tersebut dan mensejajarkannya dengan kata yang lain di keliaran dunia fana ini.

Politik adalah sebuah kata yang bermakna suatu usaha dan tindakan untuk meraih kekuasaan, memelihara kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan. Dan dengan kekuasaan yang diraih dapat digunakan untuk kepentingan  rakyat secara masif dalam kerangka kesejahteraan (itu istilah positifnya….. red). Hanya saja ternyata politik identik dengan “berbagai macam cara untuk meraih tujuan…” dan ada istilah lain bahwa ..”dalam politik tidak ada kawan yang abadi dan tidak ada lawan yang abadi…… tetapi yang ada adalah KEPENTINGAN yang abadi”.

Kembali ke sejuknya Kawasan Cipayung Kabupaten Bogor, diriku dihadapkan dengan peserta yang merupakan cikal bakal wakil rakyat di Kabupaten Bogor pada Tahun 2014 khususnya dari kelompok 30% berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan Pemilu yaitu… perwakilan kaum perempuan. Yach dihadapanku para peserta yang terdiri dari perwakilan aktivis perempuan di Kabupaten Bogor, sehingga meskipun sang waktu telah beranjak melewati senja ditambah dengan benturan jadwal siaran langsung babak penyisihan Piala Dunia di negeri ‘ Bafana Bafana’, para teteh, ibu, bunda, emak, tanteu, bibi dan euceu tidak bergeming dan tetap kritis menyikapi makna tentang kesadaran politik dalam kesatuan bangsa.

Berbicara politik secara nasional tentu penuh dengan kebingungan karena drama yang dimainkan di Studio Senayan hingga merambah di berbagai Kantor Para punggawa negara ternyata agak sulit diikuti langkahnya oleh masyarakat biasa dengan mata telanjang ditambah dengan contoh kehidupan artis yang sudah tidak kenal dengan butir-butir Pancasila khususnya  tentang Kesusilaan dan Ketuhanan dan mampu mengguncang media dunia. Untung saja gelaran World Cup 2010 dapat menjadi penghibur ditengah kecarut marutan keteladanan ini sehingga memberi kesempatan rakyat dan diriku untuk berpaling ke dunia olahraga yang universal.

Dunia politik bagi perempuan di indonesia bukan baru terbuka di tahun-tahun belakangan ini, tetapi telah menjadi sejarah bahwa peran perempuan di Indonesia memiliki arti yang strategis, siapa yang tidak kenal RA Kartini, Ibu Dewi Sartika…. Atau pahlawan Perjuangan Tjoet Nyak Dien, Tjoet Moetia dan pahlawan wanita lainnya.  Peran perempuan di dunia parlemen semakin terbuka khususnya diawali di era pemilu 2004.. meskipun sebelumnya sudah tertuang dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 1 menyatakan bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai warga negara adalah sama di bidang hukum dan pemerintahan. Lalu pada tahu 2000 telah dikeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 tentang Pengarusutamaan Gender dalam pembangunan nasional. Hal ini semakin menguatkan kejelasan kesetaraan status perempuan dalam berbagai bidang.

Kembali ke ranah politik khususnya keberadaan perempuan dalam parlemen atau sebagai wakil rakyat telah dipertegas dalam berbagai pasal perundang-undangan seperti :

UU 22/2007 Pasal 2 ayat (2) dan UU 2 / 2008  Pasal 2 ayat (2) yang berkaitan dengan Pendirian & Pembentukan Parpol menyertakan 30% keterwakilan perempuan;

UU 22/2007 Pasal 2 ayat (5) & pasal 20;UU 2 / 2008  Pasal 2 ayat (5) & Pasal 20; UU 10/2008 Pasal 8 ayat (1) butir d tentang Kepengurusan Parpol Pusat , Provinsi & Kabupaten/Kota disusun dg menyertakan minimal   30% keterwakilan perempuan  diatur dalam AD/ART Parpol;

UU 22/2007 Pasal 6 butir (5) tentang Komposisi keanggotaan  KPU Pusat, Provinsi & Kabupaten/Kota memperhatikan keterwakilan perempuan 30%;

UU 22/2007 Pasal 73 butir 8 tentang Komposisis keanggotaan  Bawaslu, Panwaslu Prov & Kabupaten/kota memperhatikan keterwakilan perempuan 30%...... wah serius yach?

Legalitas yang telah begitu banyak ternyata belum menjamin peran perempuan dalam jagad politik dalam negeri khususnya yang mampu menjadi wakil rakyat dan berkantor di gedung dewan, berdasarkan perhitungan ternyata jika dibandingkan dengan Pemilihan Umum Tahun 2004 maka pada Pemilihan Anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2009 di Provinsi Jawa Barat maka keterwakilan perempuan mengalami peningkatan sebesar 17% dari 8 orang anggota DPRD Provinsi Jawa Barat perwakilan perempuan di tahun 2004 menjadi 25 orang pada Pemilu DPR, DPD dan DPRD 2009 lalu atau secara istilah umum disebut Pileg (pemilu legislatif). Itu baru perhitungan sederhana di level anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, jika digabungkan secara keseluruhan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dengan anggota DPRD di 26 Kabupaten dan Kota di Jawa Barat maka peningkatan wakil rakyat itu rata-rata baru 5,65% yaitu pada Pemilu 2004 sebesar 9,36% (109 orang) meningkat menjadi 15,20% (208 orang).

Dari data tersebut dapat ditarik benang merah bahwa kuota 30% keterwakilan perempuan masih belum tercapai, sehingga kesempatan berkiprah dalam kancah parlemen lokal dan regional masih terbuka lebar meskipun jumlah tersebut belum mewakili kualitas karena tentunya harus diuji oleh sang waktu, jadi sementara masih berbicara kuantitas saja. Kesempatan inilah yang harus dimaknai secara terpola oleh para kaum perempuan sehingga kesetaraan dalam kancah perpolitikan dapat diwujudkan secara ideal, santun dan ramah.

Meskipun begitu, bukan berarti para kaum perempuan langsung fokus untuk meraih mimpi menjadi wakil rakyat dan lupa terhadap konsep Irodat Allah Subhanahu wataala tentang kodrat seorang wanita. Artinya fungsi kodrati seorang perempuan yang memiliki kelebihan yangg luar biasa dan tidak bisa dilakukan oleh seorang lelaki adalah mengandung jabang bayi penerus bangsa, melahirkan dan menyusui sang bayi hingga tegar menghadapi kenyataan yang ada dan menjadi seorang istri yang bahu membahu dengan suami membangun serta meraih cita-cita bersama. Maka bagi para kaum perempuan, jikalau hal yang hakiki tadi telah dapat difahami sebagai kelebihan insani maka  aktivitas dalam berbagai organisasi untuk mengasah jiwa kepemimpinan dan manajerial serta pada akhirnya bersaing meraih kepercayaan rakyat dalam kancah pemilihan umum maka   bersiaplah menentukan langkah mengatur strategi demi meraih mimpi yang berbekal janji dari nurani rakyat di bumi ibu pertiwi.

Tak terasa sang waktu terus bergulir menggerus kepenatan yang bercampur dengan gelak tawa ceria dari para ibu, emak, bunda, teteh, tanteu dan euceu padahal waktu semakin berani merangkak menuju pertengahan malam, dan sebuah dialektika yang mengasyikan telah mengerucut dalam sebuah istilah yang menghubungkan kata POLITIK dengan sosok perempuan yaitu…. Polos Lincah dan canTIK serta menghindari kata ‘licik dan munafik’…….. meskipun ada juga ternyata yang berfikir agak jauh menyimpang dimana POLITIK adalah singkatan dari ngomPOL saeuTIK (kencing sedikit.. bhs sunda)… biarkanlah dialektika semakin seru.

Dentang jam sebelas malam akhirnya mengingatkan saya dan para kaum perempuan, calon anggota DPRD Kabupaten Bogor Tahun 2014 untuk berkemas dan kembali ke asrama masing – masing untuk merenda mimpi, menggaet hati dan  larut dalam perjuangan kaum perempuan yang hakiki…

 

Wisma Bahtera tersenyum penuh arti.

22 Juni 2010

 

Sun, 11 Jul 2010 @23:42


1 Komentar
image

Sat, 21 Aug 2010 @16:16

3Fortune Indonesia Online Tour Services

Sesama member sitekno, Salam kenal dan sukses selalu


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+9+5

Cek Nama Web PilihanmU

Cek Nama Domain ?

Hot News
Archives

Spesial Link
My Twitter

TUKERAN LINK

Bali Travel - Bali travel information where you can read more information about Bali, Indonesia.

My Statistik

Categories
SLINK

SEPUTAR JABAR

BKPP WIL I

1. Kabupaten Bogor

2. Kota Bogor

3. Kota Depok

4. Kabupaten Sukabumi1 dan 2

5. Kota Sukabumi

6. Kabupaten Cianjur

BKPP WIL II

1. Kota Bekasi

2. Kabupaten Bekasi

3. Kabupaten Karawang

4. Kabupaten Subang

5. Kabupaten Purwakarta

BKPP WIL III

1. Kota Cirebon

2. Kabupaten Indramayu

3. kabupaten Majalengka

4. Kabupaten Cirebon

5. kabupaten Kuningan

BKPP WIL IV

1. Kabupaten Ciamis

2. Kabupaten Garut

3. Kab Tasikmalaya

4. Kabupaten Bandung

5. Kota Tasikmalaya

6. Kabupaten Sumedang

7. Kota Banjar

8. Kota Cimahi

9. Kota Bandung

10. Kab Bandung Barat

Copyright © 2014 andriekwardana · All Rights Reserved